Hot News
Home » Heritage » Heritage Semarang » Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) bagian 2

Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) bagian 2

Baca dulu : Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) bagian 1

Mengapa Zheng He sangat dipuja di daerah Semarang ?

Sementara dari daerah Semarang ada cerita sendiri mengenai kedatangan armada tersebut. Pada abad ke 15, Zheng He datang ke Semarang disertai oleh Wang Jing Hong (Ong King Hong) sebagai wakilnya. Ketika armada ini berlayar di muka pantai utara Pulau Jawa, Wang Jing Hong mendadak sakit keras. Dan atas perintah dari Zheng He, armada singgah di pelabuhan Simongan (yang kemudian bernama Mangkang) atau Semarang. Setelah mendarat, Zheng He dan awak kapalnya menemukan suatu gua. Gua itu kemudian dijadikan tangsi untuk sementara waktu. Dan dibuatlah pondok kecil di luar gua sebagai tempat peristirahatan dan pengobatan buat Wang.

laksamana-cheng-ho-semarang
foto : Rekli Mustofa

Konon, Zheng He sendirilah yang menggodok obat tradisional buat Wang. Wang mulai membaik sakitnya. Sepuluh hari kemudian, Zheng He melanjutkan perjalanannya ke arah Barat, dengan meninggalkan 10 orang awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang. Mereka juga dibekali dengan sebuah kapal dan perbekalan lainnya.

Akan tetapi setelah sembuh dari sakitnya, ternyata Wang Jing Hong menjadi betah tinggal di Semarang. Dipimpinnya ke 10 awak kapal itu untuk membuka tanah dan membuat rumah. Dimanfaatkannya pula kapal yang disediakan oleh Zheng He buat mereka bila hendak menyusul armada.

Ternyata, ada pemikiran lain dari Wang Jing Hong. Kapal yang disediakan untuknya tidak digunakan untuk menyusul armada ke Samudera Barat, akan tetapi dipakainya berdagang ke daerah-daerah terdekat di sepanjang pantai Pulau Jawa. Awak kapal yang ada ternyata juga tertarik akan daerah setempat, hingga kemudian mereka mengawini wanita-wanita penduduk setempat. Akibatnya, kawasan di sekitar gua menjadi ramai dan makmur.

Makin hari makin banyak penduduk setempat yang bergabung dan bertempat tinggal serta bercocok tanam di sana. Sebagaimana Zheng He, Wang Jing Hong pun seorang Muslim yang saleh. Dia giat menyebarkan Agama Islam di kalangan masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat diajarkannya juga cara-cara bercocok tanam yang baik dan pengetahuan lainnya.

Demi menghormati Laksamana Zheng He, yang dianggap sangat berjasa dan berbudi luhur, dia mendirikan suatu patung Zheng He di gua itu tadi, untuk mengenangnya. Wang meninggal dunia dalam usia 87 tahun dan jenazahnya dikuburkan secara Islam. Atas jasanya, kemudian Wang diberi julukan sebagai “Kiai Juru Mudi Dampo Awang”.

Makam Kiai Juru Mudi Dampo Awang ini kemudian menjadi salah satu bagian tersendiri dalam kompleks Kelenteng Sam Pok Kong yang terkenal itu. Sejak saat itu, pada setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek, banyak orang datang ke gua Sam Po Kong dan bersembahyang di sana. Untuk memperingati Zheng He, juga dibangunlah Kelenteng Sam Po Kong.

Mula-mula Kelenteng itu sangat sederhana sekali bentuknya. Dalam gua tempat Kelenteng itu, hanya terdapat patung Zheng He semata. Kemudian pada tahun 1704, gua ini runtuh akibat angin ribut dan hujan lebat. Peristiwa itu telah mengakibatkan sepasang pengantin tewas karena kebetulan sedang memuja di situ. Tak lama kemudian gua yang runtuh itu digali dan dipulihkan kembali seperti keadaan semula. Dan pada tahun 1724 oleh masyarakat Tionghoa setempat dipugarlah Kelenteng Sam Pok Kong.

Pada Hari Raya, khususnya tanggal 29 bulan ke Sembilan penanggalan Imlek, hari mendaratnya Zheng He di Semarang atau hari lahirnya Zheng He berdasarkan cerita lain, maka di kawasan ini diadakan arak-arakan secara besar-besaran. Pada pertengahan kedua abad ke 19, kawasan Simongan (Gedung Batu) dikuasai oleh Johannes, seorang tuan tanah keturunan Yahudi. Dia menjadikan kawasanan itu sebagai sumber meraih keuntungan. Dituntutnya cukai setiap warga Tionghoa yang datang ke Kelenteng Sam Po Kong. Karena cukainya sedemikian tinggi, maka banyak yang tak mampu membayarnya. Akibatnya perkumpulan orang Tionghoa di sana sepakat untuk mengumpulkan dana sebesar 2.000 gulden untuk ”membeli pintu cukai” setiap tahunnya. Belakangan turun hingga 500 gulden.

Demi kelanjutan penyembahan di Kelenteng Sam Po Kong, maka oleh warga Tionghoa di Semarang dibuat suatu duplikat patung Sam Po Kong yang kemudian diletakkan di Kelenteng Tay Kay Sie (Kelenteng Keinsafan Besar) yang dibangun pada tahun 1771 dan terletak di gang Lombok, sebuah Perkampungan Keturunan Tionghoa di Kota Semarang (Kawasan Pecinan Semarang).

Gara-gara tuan tanah tersebut, penyembahan terhadap Sam Po Kong dipindahkan ke Kelenteng Tay Kak Sie. Dan munculah acara baru dalam perayaan tanggal 29-30 bulan ke Sembilan penanggalan Imlek. Patung duplikat itu diarak ke kelenteng Sam Po Kong untuk mendapatkan mujizat dari patung “asli”nya, yang konon didatangkan dari Tiongkok, disertai dengan berbagai alat perlengkapan keagamaan pada abad ke 18. Akan tetapi pada masa penjajahan Belanda, arak-arakan tersebut diizinkan hanya sampai pagar batas Simongan milik tuan tanah Johanes.

Gua Sam Po Kong yang berada dalam kekuasaan Johanes telah membikin marah warga Tionghoa di Kota Semarang, seperti halnya Oei Tjie Sien seorang pengusaha Tionghoa masa itu. Dia bernazar akan membeli daerah suci itu apabila usahanya dapat kemajuan besar.

Pada tahun Guang Xu ke 5 penanggalan Imlek atau tahun1879, terlaksanalah keinginan Oei Tjie Sien tersebut, ayahnya Oei Tiong Ham adalah seorang saudagar kaya yang dijuluki Raja Gula di Indonesia. Dia membeli tanah di Simongan dan dipugarlah kelenteng Sam Po Kong. Dengan berdirinya kompleks tersebut, juga berdiri sebuah tugu peringatan dalam bahasa Tionghoa, tertera tanggal 30 April 1938 yang isinya menguraikan riwayat dari tanah Simongan yang telah berhasil dibeli, yang mana dulunya itu merupakan daerah pilihan dari “Sam Poo Tau Djien Kong Tjow”.

Dimana Makam Sam Po Kong (Zheng He) ?

Hingga akhirnya, banyak pendapat di kalangan sejarawan mengenai dimana sebenarnya letak makam dari Admiral Zheng He atau Sam Po Kong itu tadi. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa makam Zheng He ada di Kota Semarang, karena di sinilah dia sempat masuk pada pelayarannya yang ke 7. Sedangkan pendapat lain, Zheng He dimakamkan di Najing (Nanking) Tiongkok.

Menurut “Nan Yang Hu Lu Xing” (Catatan perjalanan ke Asia Tenggara), yang terdapat di Kota Semarang itu bukanlah makam Zheng He, melainkan makam Wang Jing Hong (Ong King Hong) jurumudi yang ditinggalkan Zheng He. Sementara itu, ada pula yang berpendapat lain, yakni penguburan Admiral Zheng He dilaksanakan di Kota Semarang.

Ini hasil tulisan Zheng Yi Jun, sarjana Tiongkok yang menulis sebagai berikut :

Tahun 1433, Zheng He wafat di Calcutta, India. Dalam perjalanan pulang ke Tiongkok, mereka sempat singgah ke Jawa. Berhubung panasnya iklim tropika yang mereka lewati, sangat mustahil memelihara jasad Admiral Zheng He dalam waktu lama ke Tiongkok. Makanya, para awak sepakat untuk menguburkannya di Kota Semarang, Jawa Tengah. Demikian pula asal muasal nama Semarang yang berasal dari kata “San Bao Long”, nama lain dari Admiral Zheng He.

Sedangkan pendapat dari keturunan Zheng He, yakni Zheng Mian Zhi sebagai keturunan ke 19 dari Zheng He, menulis dalam tulisan yang berjudul ”Tentang Makam Zheng He, Kakek Buyut Saya”. Dia menuliskan bahwa Bahariawan Besar Zheng He adalah kakek buyut saya. Makam almarhum terletak di lereng sebelah selatan bukit Nio Shou diluar pintu Gerbang Zhong Hua (Nanjing). Dan kakek saya Zheng Hou Heng pernah menjaga malam di situ dan diundangnya Ulama Muslim untuk membacakan Alquran setiap musim semi, demi memperingati kakek buyut kami itu.

Berhubung Zheng He sebagai penganut Islam yang saleh, maka penguburannya pun dilakukan menurut Ajaran Islam. Makamnya menghadap ke sebelah Barat. Makam Zheng He sekarang sudah dipugar. Tepatnya oleh Kotrapraja Nanjing sejak tahun 1984, dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke 580 dimulainya pelayaran Zheng He yang pertama. Pemugaran itu baru selesai dan dibuka untuk umum pada tahun 1985. Kini makam Zheng He dikelilingi pohon rindang.

Di muka kuburan tersebut terdapat jalan besar yang panjangnya 100 meter. Tak jauh dari makam tersebut ada tiga rumah yang bergaya arsitektur dinasti Ming. Di sanalah dipamerkan gambar Zheng He dan Peta Bumi hasil pelayaran-pelayaran Zheng He dan lain sebagainya.

Yang menarik ialah di depan makam terdapat 28 anak tangga yang dibagi menjadi 4 tingkatan. Setiap tingkatan terdiri dari 7 anak tangga. Angka berupa 28, 4 dan 7 masing-masing dijadikan lambang sebagai berikut :

Selama 28 tahun Zheng He dan anak buahnya telah menjelajahi kira-kira 40 negara dalam 7 kali pelayaran. Di tugu batu sebelah utara makam itu terukir kata yang ditulis besar, ”Makam Zheng He.”

Lantas yang masih jadi tanda tanya, sebagai seorang Bahariawan Besar yang amat berjasa, kenapa pula makamnya baru ditemukan beberapa abad kemudian ?

Pada waktu itu terjadi perdebatan di dalam Istana Dinasti Ming, setengah abad sesudah wafatnya Zheng He. Ketika itu Zhu You Cheng menjadi Kaisar Dinasti Ming terakhir pada abad ke 15. Di kalangan pembesar, ada yang membenarkan pelayaran Zheng He, tetapi ada pula yang menyalahkannya. Antara lain, Liu Dazia berpendapat bahwa pelayaran Zheng He gagal dan kerugiannya lebih besar dari pada untungnya.

Sebagai akibat perdebatan yang sengit itu, golongan yang menyalahkan Zheng He itu berhasil mengatasi lawannya. Akhirnya banyak arsip pelayaran Zheng He beserta catatan silsilah keluarga Laksamana dibakar sirna. Tindakan menyalahi sejarah yang terkutuk inilah yang telah mendatangkan kesulitan buat sejarawan untuk melakukan studi.

Bukan hanya makam Zheng He yang jadi masalah, tetapi tahun wafatnya juga demikian. Ada yang berpendapat Zheng He wafat pada 1433, 1434 dan 1435. Sementara dari Indonesia sendiri berpendapat bahwa Zheng He wafat tahun 1444, demikian yang digali dari H Usman Efendy yang dimuat dalam Berita Buana 1987.

—————————————–

Sebagai catatan : telah ada seorang pensiunan Perwira Muda Angkatan Laut Inggris yang bernama Gavin Menzies, yang telah berusaha menulis ulang “Sejarah Perjalanan Armada Besar Tiongkok” tersebut pada bukunya yang berjudul “1421 saat China menemukan dunia” dan “1434 saat Armada Besar China berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans”. Pada kedua bukunya itu, Gavin Menzies berusaha mengungkapkan kembali fakta sejarah sesungguhnya dari “Pelopor Penjelajah Dunia” serta “Penemu” sesungguhnya dari berbagai penemuan-penemuan penting dunia lainnya !

Sumber :
* www.tionghoa.com/88/zheng-he/
* www.xuezhengdao.com


Bagikan kepada teman :

Koleksi Taobao Resmi di Lazada