Hot News
Home » Heritage » Heritage Semarang » Javaanse Schouwburg Sobokartti dan Visi Indonesia Merdeka – (Bagian 2)

Javaanse Schouwburg Sobokartti dan Visi Indonesia Merdeka – (Bagian 2)

Lanjutan : Javaanse Schouwburg Sobokartti dan Visi Indonesia Merdeka – (Bagian 1)

D. Javaanse Schouwburg[22]

Pada awalnya kegiatan-kegiatan Sobokartti dilakukan di paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstuin. Tapi pada 1931 selesai dibangun gedung teater di Karrenweg (sekarang Jalan Dr. Cipto), yang diberi nama Volkstheater Sobokartti (Anonim, 1931). Gedung ini adalah rancangan Thomas Karsten, yang memadukan konsep seni pertunjukan Jawa yang biasa dipentaskan di pendhapa dengan konsep pementasan teater barat.[23]

Jauh sebelum gedung Sobokartti berdiri, bahkan sebelum organisasi Sobokartti berdiri, telah ada komunikasi antara Mangkunagara VII dengan Karsten tentang konsep rancangan gedung teater yang sesuai bagi seni pentas Jawa (javaanse schouwburg). Ini bisa dibaca dalam kutipan surat Karsten kepada Mangkunagara VII tertanggal 9 Mei 1919:

Naar aanleiding van – overigens mislukte – besprekingen alhier over een Europeesche schouwburg, ben ik op de gedacht gekomen hoe men een Javaanse schouwburg zou bouwen: een ruimte waar de Javaan, op de wijze die hem aangenaam is, waar een Javaanse volksmassa gamelan kan horen en wajang kan zien, beschut gezeten, goed ziende, met een ‘toneel’ niet op Europesen voet maar Javaanse trant. De pendopo zou ons zo’n bouw het uitgangspunt moeten zijn, en ik heb op die basis schetsen gemaakt waarvan ik hoop dat ik ze bij gelegenheid ook met U zal graag kunnen bespreken.[24]

Karsten berpendapat bahwa melalui proses yang telah berlangsung sangat lama setting pendhapa tidak bisa dipisahkan dari seni pertunjukan Jawa. Seni pertunjukan Jawa (seperti umumnya seni pertunjukan di Nusantara) tidak mengenal pemisahan ketat antara penonton dan pelakon.

Sebaliknya, seni pertunjukan Barat justru berusaha menciptakan realitas baru atau dunia lain yang sepenuhnya terpisah dari penonton. Karena itu Karsten berpendapat panggung prosenium bukan tempat yang cocok untuk pementasan teater Jawa seperti wayang orang. Seperti juga dikatakan Jessup (1985): “Anyone who has watched Javanese or Balinese dance-drama both in its traditional setting and on a westernized stage can testify that the latter inevitably imposes spurious feelings of pantomime and irrelevance of the art.

Meski demikian, sebagai teater pendhapa konvensional di istana dan rumah bangsawan juga mempunyai kelemahan mendasar yaitu diabaikannya kenyamanan penonton. Ini antara lain disebabkan karena tempat pertunjukan sering multi fungsi.

Pendhapa selain tempat mempertunjukan tari dan teater serta tempat memainkan gamelan juga adalah tempat mengadakan pertemuan, menyambut tamu dan menyelenggarakan upacara. Karena itu di mana penonton hendak duduk atau berdiri, apakah mereka bisa melihat panggung dengan jelas atau tidak, sama sekali tidak dipikirkan dalam rancangan pendhapa konvensional[25]. Bagi seorang sosialis seperti Karsten ini sama sekali tidak bisa diterima (”unacceptable in growing equality”) (Jessup, 1985).

Pada 1919 Karsten telah membuat prototipe gedung teater untuk pementasan kesenian Jawa yang telah mengalami demokratisasi. Prototipe gedung teater Jawa (javaanse schouwburg) atau teater rakyat (volkstheater) ini diharapkan Karsten bisa menjadi acuan mendirikan gedung pertunjukan di berbagai tempat yang sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa, sekaligus mengkoreksi kesenjangan sosial yang ekstrem di masyarakat.

Karsten berkonsultasi tentang maket javaanse schouwburg dengan Mangkunagara VII seperti tertulis dalam surat Karsten kepada Mangkunagara VII tertanggal 15 Oktober 1924:

Hooggeachte Pangeran Adipati,

In de eerste plaats wil ik U berichten dat het model voor de inlandsche schouwburg een paar dagen geleden door Soesmarjanto aan het adres van de heer Sastrowidjono[26] te Jogja is afgezonden. Ik hoop dat het goed overkomt en dat het bij het uitpakken niet beschadigd wordt want het is nog al breekbaar; den heer Sastrowidjono schreef ik ook hier over.[27]

Satu-satunya javaanse schouwburg berdasarkan konsep Thomas Karsten yang dibangun hanyalah teater Sobokartti di Semarang. Itupun tidak sepenuhnya seperti rancangan Karsten karena keterbatasan dana. Kalau kita bandingkan gambar maket di atas dengan teater Sobokartti yang ada sekarang terlihat bahwa teater Sobokartti jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan javaanse schouwburg rancangan awal Karsten. Namun prinsip dasarnya tetap sama: berangkat dari sesuatu yang telah sejak dulu dipunyai orang Jawa (Indonesia) sedang penambahan unsur-unsur ”Barat” sebagai pelengkap untuk menyempurnakannya.

E. Penutup

Keberadaan bangunan teater Sobokartti saat ini tidak banyak diketahui bahkan oleh penduduk kota Semarang sendiri. Kondisi fisiknya juga belum menggembirakan, meski sudah dilakukan beberapa upaya sederhana untuk memperbaikinya, karena masih sering dilanda banjir yang mengganggu aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Bangunan ini adalah suatu bangunan cagar budaya karena telah berusia lebih dari 50 tahun, namun bangunan itu juga bukan sekedar artefak.

Di balik kesederhanaannya bangunan teater Sobokartti selama proses perancanangan dan pembangunannya yang lama banyak bersinggungan dengan isu-isu penting di masanya, antara lain perdebatan tentang masa depan Indonesia. Senyatanya memang, gedung ini mewakili pandangan bahwa masa depan Indonesia adalah mandiri dalam asosiasi yang setara dengan Belanda. Menurut pandangan ini Indonesia Merdeka tidak perlu dicapai melalui revolusi yang justru akan menyengsarakan rakyat tapi melalui pendidikan rakyat yang emansipatoris.

Gedung ini juga perwujudan pandangan bahwa ’Timur’ dan ’Barat’ harus saling mengisi dan melengkapi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari keduanya, demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan. Pandangan itu terbukti kemudian tidak laku di kalangan kaum nasionalis radikal atau golongan non-coöperatie yang kemudian menjadi arus-utama gerakan kemerdekaan Indonesia.

Namun menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke 66 ini, ketika Indonesia menghadapi berbagai persoalan serius, bahkan keberlanjutanya sebagai bangsa dan negara sedang terancam, ada baiknya kita menengok kembali pada konsep cinta tanah air yang ditawarkan orang-orang seperti Mangkunagara VII dan Thomas Karsten dan tokoh-tokoh lain lain yang termasuk golongan coöperatie. Siapa tahu masih ada hal-hal yang bisa dipakai untuk menjawab persoalan masa kini.

Ucapan Terimakasih

Terimakasih saya ucapkan kepada Donny Danardono, Ketua Program Magister Lingkungan dan Perkotaan, Universitas Katolik Soegijapranata, yang telah mendorong saya menulis artikel ini. Terimakasih juga saya sampaikan kepada Joost Coté, ahli sejarah dari Deakin University Australia untuk petikan surat-surat dan kata-kata terakhir Thomas Karsten. Kepada Widjajanti Dharmowijono (Ketua Jurusan Bahasa Belanda, Akademi Bahasa Asing 17 Agustus Semarang) saya berterimakasih untuk kesediaannya memeriksa dan mengkoreksi terjemahan Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia dalam tulisan ini.

Kepustakaan

Anonim (1931) Opening Javaansche Schouwburg Sabakartti, Karrenweg Semarang, 10 Oct ’31, Semarang, Indonesia: The Koei Liem

Anonim (2008) Seratus Tahun Kebangkitan Nasional: Lahirnya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 (Episode 2), Jakarta, Indonesia: Arsip Nasional Indonesia

Bandem, I Made, dan Sal Murgiyanto (1996) Teater Daerah Indonesia, Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Kanisius

Cotè, Joost (2004) Colonial Designs: Thomas Karsten and the planning of urban Indonesia, dipresentasikan di depan 15th Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia, Canberra 29 Juni – 2 Juli 2004.

Furnivall, J.S. (1944) Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge, UK: At the University Press

Gupta, A. Das (2002) “Rabindranath Tagore in Indonesia: An experiment in bridge- building” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 158 (2002) no.3, pp. 451-477.

Jessup, Helen (1985) “Dutch Architectural Visions of the Indonesian Tradition”, Muqarnas, Vol. 3, (1985), pp. 138-161

Kerdijk, Rosa M.T. (2002) Wayang –liederen: Biografi Politik Budaya Noto Soeroto, Jakarta, Indonesia: Komunitas Bambu

Komisi Penyiaran Indonesia (2010) Mangkunagara VII Diusulkan Sebagai Bapak Penyiaran, http://www.kpi.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1826:mangkunegoro-vii-diusulkan-sebagai-bapak-penyiaran&catid=14:dalam-negeri-umum&lang=id diunduh 7 Mei 2011

Kunst, J. (1973) Music in Java: Its history, its theory and its technique, Den Haag, Nederland: Martinus Nijhoff

Larson, George D.(1990) Menjelang Revolusi: Kraton dan kehidupan politik di Surakarta 1912-1942, Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press

Lowensteyn, Peter (2005) The Colonial Rulers, http://www.lowensteyn.com/indonesia/ch2.html, diunduh 8 Mei 2011

Mawardi, Bandung (2009) “Kekuasaan dan Kebudayaan” Kompas 28 Maret 2009

Pemberton, John (1994) On the Subject of ”Java”, Ithaca, USA: Cornell University Press.

Priyatmoko, Heri (2009) “K.G.P.A.A. Mangkunegara VII (1885 -1944)” Suara Merdeka 26 Juli 2009

Van Roosmalen, Pauline K.M. (2008) ”For Kota and Kampong: The emergence of town planning as a discipline” dalam Ravestijn, Wim dan Jan Kop (eds.)(2008) For Profit and Prosperity: The Contribution made by Dutch Engineers to Public Works in Indonesia 1800-2000, Zaltbommel, Nederland: Aprilis

Soedarsono (1984) Wayang Wong: The state ritual dance drama in the court of Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press

Soerjaningrat, R.M. Soewardi (1916) ” Een Moderne Javaansche Vorst” Hindia Poetera, jaargang I: 1916-1917.

Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1929 – 50


[1]Program Magister Lingkungan dan Perkotaan, UNIKA Soegijapranata, tjahjono_rahardjo@yahoo.com.

[2]….menegaskan bahwa Belanda mempunyai misi moral yang harus dilaksanakan bagi rakyat di kawasan-kawasan itu… .

[3] ”Irigasi, pendidikan dan emigrasi.”

[4] Perkumpulan Kesenian Rakyat. Pengertian ‘rakyat’ disini adalah bumiputera, untuk membedakan dari ’Eropa’.

[5] ”Dengan demikian, pertunjukan Wayang Wong kemudian bukan lagi hanya dipertunjukkan di pendapa rumah para bangsawan melainkan juga di sebuah teater prosenium, lengkap dengan dekorasi layar yang dilukis secara realistis serta menggambarkan pendapa, balairung, hutan, jalan pedesaan dengan sawah-sawah, dan sebagainya. Memang agak janggal, di depan layar yang dilukis secara realistis ini para pemain Wayang Wong bergerak dengan gaya tari Jawa yang cukup jauh stilasinya” (Bandem dan Murgiyanto, 1996).

[6] Pejabat semacam walikota yang ditunjuk, tidak dipilih. Tugas utamanya adalah mengetuai dewan kota (gemeenteraad).

[7]”Perkumpulan bertujuan untuk mempromosikan kesenian bumiputera dan memperluas apresiasi kesenian ini di antara semua kelompok masyarakat, khususnya penduduk bumiputera.”

[8] Dalam laporan Kunstvereeniging Sobokartti tahun 1923 disebutkan anggota terdiri dari 223 orang bumiputera, 23 orang Eropa dan 24 orang Tionghoa.

[9]Antara Mangkunagara VII dan Thomas Karsten terjalin persahabatan selama lebih dari seperempat abad yang didasari kesamaan visi masa depan Hindia dan kecintaan pada kebudayaan Jawa.

[10] Pada September 1948 dinobatkan sebagai Ratu Juliana.

[11]Tarian ini diiringi gamelan Kanyut Mesem di Istana Mangkunegaran yang dipancarkan langsung ke Istana Noordeinde di Den Haag oleh Solosche Radio Vereeniging (SRV). Ini melibatkan teknologi yang canggih untuk masa itu. SRV adalah stasiun radio lokal pertama di Indonesia, didirikan pada 1 April 1933 atas prakarsa Mangkunagara VII. Studio SRV berada di Sociëteit Mangkunagaran yang sekarang menjadi Monumen Pers di Surakarta (Komisi Penyiaran Indonesia, 2010).

[12]Aslinya dalam bahasa Belanda, berjudul “Een Moderne Javaansche Vorst

[13] Selain itu, ia juga menguasai bahasa Melayu dan Perancis.

[14]”Tentang wayang kulit (purwa) pada umumnya dan unsur-unsur simbolis dan mistis yang terkandung di dalamnya.” Tulisan ini telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Claire Holt dengan judul ”On the wayang kulit (purwa) and its symbolic and mystical elements”, diterbitkan Cornell University Press (1957).
[15]”Kelompok ini beranggotakan orang Jawa, Cina, misionaris, pegawai kolonial, dan para sarjana. Tujuan kelompok studi ini adalah menciptakan hubungan erat antara budaya Barat dan Jawa. Cultuur-Wijsgeerigen Studiekring menjadi sarana Mangkunegoro VII untuk menunjukkan bahwa budaya Jawa memiliki peran tinggi dan perlu dipahami oleh negeri-negeri di Barat” (Mawardi, 2009).

[16] Susuhunan Surakarta, Sultan Yogyakarta, Mangkungara dan Pakualam.

[17] Gubenur Surakarta dan Gubernur Yogyakarta.

[18] Sekolah tinggi.

[19] Ilmu bangunan, arsitektur.

[20] KeluargaTionghoa peranakan paling berpengaruh di Semarang ketika itu adalah keluarga Be, Liem, Tan dan kemudian juga keluarga Oei.

[21]Komunikasi lisan dengan Simon Karsten, Juli 2000.

[22] Gedung kesenian Jawa.

[23] Karsten mengkritik kecenderungan arsitektur di Eropa abad 19 yang memandang “beautiful as a more or less unnecessary imposed veneer.” Sementara di Hindia ia melihat bahwa “good form is central to and inseparable from the entire design process.” Karena itu ia mengingatkan arsitek-arsitek Eropa yang bekerja di Hindia agar jangan sampai membiarkan “their sober Western indifference” menghilangkan pendekatan “Timur” itu (Van Roosmalen, 2008).

[24]Menyusul pembicaraan – meskipun gagal – tentang suatu teater Eropa, saya sampai pada pemikiran bagaimana suatu teater Jawa akan dibangun: ruang yang nyaman bagi sekelompok orang Jawa, tempat mereka dapat mendengarkan gamelan dan menonton wayang, duduk terlindung dan bisa melihat dengan jelas, bukan dengan panggung Eropa tapi panggung bergaya Jawa. Pendhapa akan menjadi titik awal bangunan semacam itu, dan berdasarkan pemikiran itu saya telah membuat beberapa sketsa, yang sangat saya harap pada saatnya bisa saya diskusikan dengan anda.

[25] Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VIII (1921-1939) di Kraton Yogyakarta sering dipentaskan wayang orang kolosal melibatkan 300 sampai 400 penari yang berlangsung dua bahkan tiga hari. Setiap hari pertunjukan berlangsung mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dalam pertunjukan ini satu-satunya tempat duduk penonton yang pasti adalah singgasana Sultan yang diletakkan tepat di bawah uleng Bangsal Kencana. Pertunjukannya sendiri berlangsung di Tratag Bangsal Kencana, yang terletak lebih rendah dari Bangsal Kencana. Ribuan rakyat jelata yang diijinkan menonton pementasan cukup duduk bersila di halaman berpasir. (Soedarsono, 1984)

[26]Sastrowidjono adalah anggota Budi Utomo yang pada kongres kedua di Yogyakarta, 10-12 Oktober 1909 menyampaikan pidato penting tentang “Bagaimana memajukan penduduk Jawa”. Ini pertama kali hubungan antara kemajuan perekonomian dengan kemampuan mencapai cita-cita pendidikan dibahas Budi Utomo (Anonim, 2008).

[27]Yang Mulia Pangeran Adipati,

Pertama saya ingin memberitahukan bahwa model teater Jawa beberapa hari lalu telah dikirim ke alamat Tuan Sastrowidjono di Jogja oleh Soesmarjanto. Saya berharap model itu sampai dengan selamat dan tidak terdapat kerusakan ketika membongkar kemasannya mengingat model itu agak rapuh. Saya juga telah menulis kepada Tuan Sastrowidjono tentang hal ini.


Bagikan kepada teman :

Lazada Nutrisi Untuk Negeri Oktober 2017