Home » Heritage » Heritage Semarang » Stasiun Besar Semarang Tawang

Stasiun Besar Semarang Tawang

Ampat penari kian kemari/ jalan berlenggang, aduh…/ Langkah gayanya menurut suara/ irama gambang/ Bersuka ria, gelak tertawa/ Semua orang/ kar’na hati tertarik gerak-gerik/ si tukang gendang/ Ampat penari membikin hati/ menjadi senang, aduh…/ Itulah dia malam gembira/ Gambang Semarang/ lirik lagu “Empat Penari”

Stasiun Besar Semarang Tawang mulai beroperasi pada 1 Juni 1914. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api NIS (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) selain sebagai monumen untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol, juga untuk menggantikan Stasiun Semarang di Tambaksari yang dianggap sudah tidak memadai lagi. Stasiun Semarang sudah dioperasionalkan sejak tahun 1867. Arsitek Stasiun Semarang Tawang adalah JP de Bordes. Tinggi bangunan dengan pilar dan tembok kokoh membentuk kemegahan. Bagian puncak atap yang berbentuk kubah menunjukkan gaya arsitektur masa itu. Bentuk lengkung dan persegi mendominasi ornamen bangunan. Kanopi di depan pintu masuk menambah kesan eksklusif stasiun ini. Meski hasil rancangannya terkesan megah, arahan dari direksi NIS di Den Haag (Belanda) lebih menekankan pada bangunan yang fungsional. Disaat yang hampir bersamaan, pada 6 Agustus 1914, perusahaan kereta api SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij) meresmikan Stasiun Semarang Poncol yang dirancang oleh arsitek Henry Maclaine – Pont.

Pada awal beroperasinya, tidak ada jalur kereta api yang menghubungkan antara Stasiun Semarang Tawang dan Semarang Poncol, dua-duanya merupakan stasiun ujung atau kopstation. Stasiun Semarang Poncol melayani kereta api dari/ke menuju barat (Cirebon) dan Stasiun Semarang Tawang melayani kereta api dari/ke timur (Solo dan Yogyakarta). Ini dikarenakan bahwa kedua stasiun tersebut milik dua perusahaan kereta api yang berbeda yaitu NIS dan SCS. Akibat jaringan kereta api yang terpisah, masing-masing perusahaan itu mempunyai stasiun yang terpisah pula. Keadaan ini cukup merepotkan, tidak hanya bagi penumpang tapi (terutama) untuk angkutan barang. Baru ketika awal pemerintah Jepang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1942/1943, kedua stasiun itu dapat dihubungkan dengan jalur kereta api karena kedua perusahaan kereta api itu digabungkan oleh pemerintahan Jepang di Indonesia.

Namun sungguh sayang akibat perkembangan kota Semarang yang semakin pesat serta sistem tata kota yang belum pas dengan kondisi kota pinggir pantai maka stasiun Semarang Tawang sering digenangi banjir akibat hujan atau rob (rembesan air laut jika permukaan laut pasang). Penyebab banjir, selain curah hujan yang tinggi tiga hari berturut-turut dan air pasang laut Jawa, juga hilangnya area resapan di sebelah utara stasiun. Rawa yang dahulu melingkupi bagian utara stasiun sejak 1985 berubah menjadi pemukiman. Banjir merupakan hantu yang harus dihadapi bangunan Stasiun Tawang. Namun, gunungan sampah di tambak sebelah timur stasiun juga musuh utama yang harus dihadapi. Dampaknya, perjalanan kereta api melalui jalur utara di Jawa menjadi terganggu. Untuk mengatasi masalah itu telah tiga kali dilakukan pengurukan lantai bangunan. Ketinggian bangunan telah berkurang 1.5 meter akibat peninggian itu. Tak hanya bangunan yang ditinggikan, jalan rel pun ikut ditinggikan.

sumber : tidak diketahui (internet), juga tidak diketahui kapan foto ini dibuat

Mulai Juli 2009, PT Kereta Api (persero) menjadikan sekitar 600 stasiun yang berusia diatas 50 tahun menjadi bangunan cagar budaya, termasuk didalamnya adalah stasiun Semarang Tawang. Langkah tersebut bertujuan melestarikan bangunan kuno agar tetap terjaga keasliannya. Menjadikan stasiun sebagai cagar budaya akan menjaga kenyamanan dan kebersihan stasiun. Saat ini yang pengerjaannya telah dimulai adalah stasiun Semarang Tawang. Restorasi Stasiun Semarang Tawang baru satu langkah yang harus ditempuh untuk melestarikan bangunan bersejarah ini. Rencana restorasi meliputi penggantian lapisan dinding pada bangunan stasiun yang menggunakan semen abu-abu atau portland cement (PC), serta cat tembok emulsi. Salah satu ruangan yang segera direstorasi dindingnya adalah lobi utama stasiun. Lobi ini dirancang sesuai fungsi stasiun Semarang Tawang, sebagai pintu masuk utama Kota Semarang.Satu hal yang menarik dari Stasiun ini adalah lagu penyambut kedatangan kereta yang masuk ke stasiun yaitu lagu berjudul “Empat Penari” karya dari Oey Yok Siang, pada tahun 1940, dengan lirik oleh Sidik Pramono. Lagu “Empat Penari” dalam alunan gambang semarang ini telah dimainkan sejak jaman pra kemerdekaan dan telah menjadi lagu khas kota Semarang.

sumber : www.indonesianheritagerailway.com


Bagikan kepada teman :