Hot News
Home » Heritage » Heritage Semarang » Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng Tay Kak Sie | Jl. Gang Lombok, berdiri tahun 1771

Klenteng Tay Kak Sie berawal dari dibangunnya Kwan Im Ting atau tempat pemujaan Dewi Kwan Im di Balekambang (Jl. Gang Belakang) pada tahun1746 oleh penduduk Pecinan Lor dan Kulon, pada saat itu sekelilingnya masih berupa tanah kosong dengan pepohonan asem sehingga memberikan kesan yang angker. Kemudian pada perkembangannya di tahun 1753, Lokasi Kwan Im Ting semakin ramai sehingga perjuadian dan pertunjukkan seni yang muncul di tempat tersebut sering memicu perkelahian massal.

Untuk meredamnya, Kwan Im TIng dipindahkan ke Gang Lombok yang memiliki lokasi dengan Feng Shui lebih bagus dari lokasi lama. Lokasi ini merupakan kebun lombok yang terletak di tepi kali Semarang dan menyimbolkan bunga teratai. Pelopor kepindahan Kwan Im Ting adalah Kapten Tang Eng (Tan Kiem Sa), Mayor Tan Kiem Bing, Letnan Kho Bing Liang (Khouw Ping), Liem Jam Kong (Liem Sing Sie), Tan Kong Hoey, Tan Tjeng, Tan Twat Gwan, Kapten Oey Tay Ting dan hartawan lainnya. Klenteng dibangun dengan mendatangkan tukang – tukang dari Tiongkok dan diberi nama Tay Kak Sie yang artinya “Kesadaran Tinggi”

Klenteng Tay Kak Sie sempat mengalami pemugaran besar – besaran di tahun 1814, 1845, 1890, 1956, 1982. Sempat terjadi kebakaran yang menghanguskan ruang pemujaan untuk Hok Tek Tjing Sien (Dewa Bumi) sehingga pada tahun 1987 dilakukan perbaikan pada ruang pemujaan tersebut.

Penambahan bangunan kemudian terjadi pada tahun 1995 dengan menambahkan bangunan aula dan penginapan (2002). Kemudian di tanggal 11 Agustus 2007 diresmikan replika kapal Cheng Ho diatas Kali Semarang oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto.

Klenteng Tay Kak Sie merupakan salah satu kelenteng yang paling besar dan indah di kawasan Pecinan Semarang. Penerapan feng shui sangat kental terlihat pada kelenteng ini. Dimulai pada pemilihan lahan yang berbentuk empat persegi panjang, yang mempunyai makna cukup baik dalam pandangan feng shui.   Bentuk lahan empat persegi yang melebar ke samping jika untuk rumah tinggal kurang baik karena memerlukan penanganan yang teliti agar kegiatan di dalam rumah tidak terlihat.  Berhubung lahan ini digunakan untuk tempat ibadah, maka tidak terlalu berisiko.

Klenteng Tay Kak Sie merupakan kelenteng masyarakat yang berfungsi untuk menjaga keharmonisan seluruh lingkungan masyarakatnya. klenteng masyarakat biasanya ditandai oleh letak dan orientasi Klenteng terhadap sungai. Pada usianya yang sudah lebih dari 262 tahun ( dibangun tahun 1771), klenteng Tai Kak Sie masih berdiri kokoh dan kondisinya juga semakin baik. Renovasi yang dilakukan beberapa kali menambah keindahan klenteng ini.

Bagian atap utama (bagian depan) menampakkan paduan hiasan yang penuh makna, yaitu sepasang naga mengapit mutiara yang menyala, yang melambangkan matahari (cu). Berbeda dengan hiasan atap bangunan utama, atap bangunan tengah dihiasi sepasang  naga yang mengapit hu-lu (buli-buli dari sejenis labu kering untuk tempat air suci atau obat yang sering dibawa oleh dewa). Dalam feng shui, hu-lu ini menjadi lambang keseimbangan alam dan  berfungsi menangkal sha ch’i ( energi buruk/jahat). Naga menjadi simbol kekuatan, keperkasaan , kejayaan , kemakmuran dan keadilan .

klenteng-tay-kak-sie

Kelenteng Tai Kak Sie mempunyai beberapa ruang,  yaitu serambi, ruang tengah yang berupa atrium, ruang pemujaan utama dan ruang pemujaan tambahan di samping kanan dan kiri. Atrium (ruang terbuka) yang terletak pada bagian tengah sering disebut sebagai “sumur langit” yang  melambangkan hubungan langsung antara manusia dengan Thien.

Kelenteng Tai Kak Sie memiliki tiga pintu. Pintu utama terletak di tengah, yang diapit dua pintu di sampingnya. Pintu utama dihias dengan lukisan dua malaikan penjaga pintu yaitu Wi To Po Sat dan Kiat Lo Po Sat. Hiasan pada dua pintu samping lebih sederhana.

lukisan-naga-hijau-macan-putih

Dua lukisan yang berada di kanan dan kiri ketika kita menghadap klenteng adalah Naga Hijau dan Macan Putih, yang berfungsi sebagai penentang pengaruh jahat yang mengganggu klenteng, Naga Hijau melambangkan kekuatan yang penuh keluwesan, sementara itu harimau lambang anak berbakti. Secara urut lukisan Naga Hijau di sebelah kanan menjadi jalan masuk pengunjung, sedangkan lukisan Harimau di sebelah kiri menjadi jalan keluar.

Ruang pemujaan utama terletak pada bagian tengah. Di sini terdapat beberapa altar pemujaan yaitu pemujaan untuk dewa agama Budha, Confusius maupun Tao. Altar pemujaan untuk Tri Ratna Buddha diletakkan di ruang pemujaan utama bagian belakang. Berdasarkan feng shui letak demikian ini mengandung makna perlindungan. Adapun susunan patung-patung dewa Buddha sebagai berikut :

> Altar Sakia Mo Mie Hut (Sakyamuni Budha) ditempatkan di tengah. Penempatan Sakia Mo Mie Hut di tengah maknanya adalah untuk mewakili “Dunia Tengah” yaitu tempat manusia hidup saat ini. Menurut Sejarah, Sakyamuni Buddha adalah Shidarta Gautama atau yang kemudian disebut Buddha Gautama. Dalam bahasa Tionghoa, Sakyamuni disebut sebagai Ru Lay Fo yang berarti “Dia yang datang”

> Altar Yo Soe Hut (Bhaisajya Guru Buddha) terletak di sebelah timur atau sebelah kiri altar Sakia Mo Mie Hut. Makna penempatan Yo Soe Hut di sebelah timur adalah mewakili surga Spatika. Dalam bahasa Sanskerta adalah salah satu Buddha dari masa yang paling awal dan dikenal sebagai ahli dalam menyembuhkan penyakit.

> Altar pemujaan untuk O Mie To Hut (Amitabha Buddha) terletak di sebelah barat atau sebelah kanan altar Sakia Mo Mie Hut. Penempatan O Mie To Hut di sebelah barat mempunyai makna mewakili surga Sukhavati yang terletak di wilayah barat. Disebut juga Wu Liang Shou Fo, asal mula Amitabha adalah seorang raja. Karena suatu hak ia meninggalkan takhta kerajaan dan rela menjadi bhiksu dengan nama “Dharmakarsa” yang berarti Putra Dharma.

Altar pemujaan untuk Dewi “welas asih” (Kwan Im Po Sat) terletak pada ruang pemujaan utama di bagian depan. Penempatan altar Kwan Im Po Sat di depan bermakna penghormatan terhadap pertolongan dan perlindungannya kepada umat manusia.

Altar pemujaan untuk Thian Siang Seng Bo terdapat di sisi kiri altar Budha (altar utama), yang berunsur yang. Thian Siang Seng Bo adalah “Dewi Pelindung Pelaut” yang sangat dipuja di wilayah negara-negara maritim dan kota-kota pantai.

Altar pemujaan untuk Sam Po Tay Jin terletak di sebelah kanan altar Budha, yang berunsur yin. Sam Po Tay Jin adalah tokoh yang dihormati karena telah berjasa merintis perjalanan pertama orang-orang Cina ke Indonesia dan juga merupakan tokoh pembauran masyarakat Cina dan masyarakat Indonesia.

Anda dapat mengunjungi Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di kawasan Pecinan Semarang kapanpun Anda suka, karena klenteng ini buka dari jam 05.30 WIB s/d 21.30 WIB kecuali hari Sembahyangan.

Aksesibilitas Klenteng Tay Kak Sie :

> Lewat Jl. MT. Haryono > Jl. Petolongan > Jl. Pekojan > sebelum jembatan pertama (Kali Semarang) belok kanan menyusuri pinggir Kali Semarang.

> Lewat Jl. Pemuda > Pasar Johar > Jl. KH Agus Salim > Jl. Pekojan > sebelum jembatan pertama (Kali Semarang) belok kanan menyusuri pinggir Kali Semarang.

Denah Lokasi Klenteng Tay Kak Sie :

dari berbagai sumber.

Center map
Traffic
Bicycling
Transit

Bagikan kepada teman :

Lazada Nutrisi Untuk Negeri Oktober 2017